Ibadah Lancar Maksiat Jalan, Bukti Sekularisme Telah Mengakar


author photo

2 Apr 2025 - 09.06 WIB


Oleh: Ns Rizqa Fadlilah, S. Kep

Ramadhan telah kita lalui sebulan lamanya, namun kemaksiatan serta tindak kriminal tak kunjung ada habisnya. Puasa Ramadhan yg seharusnya menjadi pemicu meningkatkan ketakwaan, nyatanya belum terealisasi pada setiap individu. Tentu bukan salah puasa ramadhan, tapi bagaimana tiap individu menjalankannya.. 

Berbagai tindak kriminal mulai dari pencurian, penipuan, pembunuhan, hingga korupsi tiada henti terjadi. Tidak terkecuali pada remaja muslim. Kenakalan remaja juga terus terjadi, pembulian hingga pesta miras tidak luput dari jangkauan. 

Sebagaimana yg terjadi di Balikpapan Utara, enam remaja kedapatan tengah berpesta miras di kawasan RT 35 Kelurahan Graha Indah,  Balikpapan Utara pada awal Ramadhan lalu, tepatnya tanggal 5 Maret 2025. Mereka terjaring Bhabinkamtibmas setelah menggelar pesta miras oplosan selepas menjalankan sholat tarawih. Aiptu Wempy, Bhabinkamtibmas Graha Indah, menjelaskan, pihaknya mendapat laporan bahwa kelompok remaja ini sering meresahkan masyarakat karena sering melakukan pesta miras di lingkungan tsb (mediakaltim.com, 05/03/2025).

Bhabinkamtibmas pun memberikan pembinaan kepada kelompok remaja tersebut, serta sanksi fisik ringan berupa push up. Selanjutnya kelompok remaja tersebut dibawa ke Makopolsek Balikpapan Utara. Aiptu Wempy menjelaskan tujuan dari pembinaan ini adalah untuk mengingatkan para remaja akan pentingnya menjaga diri dan lingkungan selama bulan Ramadhan. Serta menghindari perbuatan yang dapat merusak kondusivitas masyarakat (mediakaltim.com, 05/03/2025).

Sekulerisme Tumbuh Suburkan Kemaksiatan
Lemahnya keimanan dan ketakwaan individu menyebabkan kemaksiatan tetap merebak, sekalipun di Bulan Ramadhan. Puasa memang dijalankan, tapi kemaksiatan tak juga ditinggalkan. Puasa hanya dijalankan dengan menahan lapar dan haus saja, perintah dan larangan Allah yang lain diabaikan. Padahal Rasulullah saw menyampaikan bahwa salah satu keutamaan puasa Ramadhan adalah sebagai perisai, "Puasa adalah perisai seperti perisai salah seorang diantara kalian dalam peperangan" (HR. An-Nasa'i). 

Imam Ibnu Rajab menjelaskan makna puasa menjadi perisai adalah puasa akan melindungi pelakunya dari berbagai kemaksiatan dunia. Dengan begitu tujuan dari puasa untuk membentuk individu yg bertakwa akan tercapai, sebagaimana firman Allah "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa" (TQS. Al-Baqarah: 183). 

Namun faktanya tidak demikian, banyak orang yang berpuasa di siang hari tapi malam bermaksiat lagi. Bahkan banyak yang berpuasa tapi tidak sholat, berpuasa tapi pacaran terus jalan, berpuasa tapi mencuri atau korupsi, dan berbagai kemaksiatan lain yg tetap dilakukan saat puasa.

Kondisi demikian merupakan buah dari pendidikan sekuler yg dihasilkan oleh sistem sekuler yg memisahkan agama dari kehidupan. Dalam pendidikan sekuler tidak diajarkan pentingnya menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Aturan agama hanya dipakai ketika beribadah saja, dalam urusan dunia agama tidak boleh dijadikan pedoman. Sistem kapitalisme-sekuler juga mengajarkan bahwa tujuan dan landasan setiap perbuatan yang dilakukan adalah kemanfaatan atau materi. Sehingga jika suatu tindakan itu dirasa mendatangkan keuntungan maka akan dilakukan terlepas dari sesuai atau tidak dengan hukum syara'. Diperparah dengan prinsip kebebasan yang lahir dari sistem demokrasi bawaan sistem kapitalisme, menjadikan individu bertindak semaunya dan tidak lagi memperdulikan halal ataupun haram. 

Selain itu sanksi yang diberikan atas tindak kriminal pun tidak membuat jera. Sebagaimana fakta di depan mata, bagaimana bandar narkoba yang jelas merusak generasi hanya diberikan hukuman penjara, bahkan di dalam penjara pun tetap bisa mengoperasikan pengedaran narkoba. Begitu juga hukuman bagi para koruptor yang sangat ringan dan tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan. Apalagi sanksi untuk remaja, tidak sama sekali memberikan efek jera. Bahkan tidak jarang remaja yang melakukan tindakan kriminal dibebaskan begitu saja, dengan dalih pelaku masih di bawah umur. Mereka hanya mendapatkan pembinaan dan sanksi yang ringan. Sanksi yang diberikan pun hanya bersifat formalitas saja, tidak untuk mencabut akar masalah. 

Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Khairu Ummah
Berbeda dengan sistem Kapitalisme, sistem pendidikan Islam mencetak generasi 'khairu ummah' atau generasi emas, yang berkepribadian Islam. Kuat secara akidah, memiliki pola fikir dan pola sikap Islami, serta mahir dalam sains dan teknologi. Setiap perbuatan yang dilakukan disandarkan pada syari'at Islam. Semangat  dalam menempuh pendidikan dan menciptakan berbagai teknologi adalah untuk kemaslahatan umat, tidak sekedar untuk mendapatkan materi. Hal ini juga selaras dengan sabda Rasulullah saw "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. At-Thabrani). 

Apalagi saat bulan Ramadhan seharusnya remaja mengisi dengan amalan ibadah, memperbanyak tilawah, senantiasa memberikan pertolongan bagi saudara yg membutuhkan, serta amalan lainnya termasuk dakwah sehingga tercipta sistem kontrol dari sesama remaja. 

Dalam hal controling atau penjagaan terhadap umat, Islam memiliki 3 pilar, yakni ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan aturan negara. Melalui sistem pendidikannya negara memastikan bahwa setiap individu kuat secara akidah dan takwa. Negara juga senantiasa mengajak masyarakat untuk saling belajar ma'ruf nahi munkar kepada sesama, juga senantiasa menerima koreksi dari masyarakat jika pemerintah melakukan kesalahan. Negara juga memberlakukan sanksi hukum yang tegas sesuai syariat Islam. Sanksi yg diberikan bersifat jawabir, bertujuan untuk penebusan dosa serta zawajir, bertujuan sebagai pencegahan agar tidak terjadi lagi kemaksiatan serupa. 

Dengan demikian individu masyarakat akan jauh dari segala bentuk kemaksiatan. Namun sistem pendidikan dan sistem sanksi demikian hanya bisa diterapkan dalam institusi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Wallahu a'lam......
Bagikan:
KOMENTAR
 
Copyright @ 2014-2019 - Radar Informasi Indonesia, PT