Run Street Ramadan: Bukanlah Solusi Tuntas Bagi Balap Lari Liar


author photo

25 Mar 2025 - 12.48 WIB


Oleh: Devi Ramaddani
(Aktivis Dakwah)

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang mulia untuk kita semua kaum muslim. Keutamaan Bulan Ramadhan sangat besar karena bulan ini dipenuhi dengan rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT. Di bulan ini, umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh, menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Sayangnya, masih ada diantara bagian dari masyarakat kita yang menyambut datangnya kemuliaan Ramadhan, justru mengisinya dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Salah satunya yang belakangan semakin marak adalah balap lari liar. Dilansir oleh kaltimpost, Maraknya balap lari liar yang terjadi selama Ramadan, turut menjadi perhatian Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara (Kukar).

Demi mengurangi kegiatan balap liar tersebut, Dispora Kukar menggelar Run Street Ramadan Kukar 2025. Kegiatan ini sudah berjalan sejak tahun lalu. Menurut Kadispora Kukar Ali Husni, kegiatan ini lebih positif ketimbang balap liar yang bisa mencelakakan diri sendiri dan juga pengguna jalan lainnya.
(https://kaltimpost.jawapos.com/olahraga-daerah/2385725743/minimalisasi-balap-lari-liar-dengan-run-street-ramadan-kukar-2025-dapat-sehat-dapat-hadiah)

Miris rasanya. Aksi balap liar oleh sekelompok pemuda itu seakan telah menjadi rutinitas tahunan setiap kali Ramadhan tiba. Hal ini nantikan bagi sekelompok pemuda untuk melaksanakan aksi berbahaya tersebut. Kegiatan yang mengganggu aktifitas lalu lintas serta mengancam keselamatan pengguna jalan lainnya itu, biasanya sering dilakukan oleh para remaja seusai sholat tarawih atau sholat subuh

Dalam hal ini mestinya pemerintah memberikan tindakan yang lebih tegas dan membuat efek jera bagi pelaku balap lari liar karena jelas-jelas akan merugikan dirinya sendiri juga mengganggu pengendara lainnya, sehingga akan meresahkan masyarakat dilingkungan sekitarnya.

Pemerintah mengambil tindakan mengalihkan aksi balap liar ke Run Street Ramadan, tetapi itu bukanlah suatu solusi tuntas bagi balapan liar. Inilah tambal sulam penyelesaian masalah ala sistem demokrasi kapitalisme, tidak dapat menjamin kemaslahatan bahkan justru akan membawa kerusakan bagi generasi muda. 

Program yang kontra produktif dengan tujuan Ramadhan. Penguasa memfasilitasi sesuatu yang mubah padahal dengan tangannya bisa untuk wasilah ibadah. Seharusnya bulan Ramadhan waktu disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, bukannya malahan melakukan hal yang melanggar aturan.

Lalu, bagaimana solusi yang seharusnya dilakukan supaya para remaja itu tidak melakukan balap lari liar? 

Kita dapat melakukannya dengan: menyentuh kejiwaannya, keimanannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak melakukan kegiatan-kegiatan agama, dengan mengikuti kajian-kajian untuk menambah ilmu dan keimanan mereka sehingga bisa menyadarkan mereka dari perbuatan yang melanggar , menjadi lampu merah bagi mereka untuk melakukan perbuatan yang salah. Ini yang seharusnya dilakukan pemerintah selain dengan patroli petugas keamanan karena jika tidak ada petugas mereka pasti melakukan lagi karena rasa takutnya hanya kepada petugas bukan karena takut kepada Allah. Jika anak- anak ada ilmu agama dia pasti merasakan bahwa Allah selalu mengawasi dia kemanapun dia berada, dan ini mencegah mereka melakukan perbuatan yang salah.

Apalagi ini dibulan Ramadhan yang seharus kita lebih meningkatkan amal ibadah kita karena amal ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, dan dibuka pintu maqhfirah / ampunan dari Allah SWT.

Seharusnya penguasa memberikan kenyamanan dengan suasana yang membuat masyarakat semakin taat kepada Allah. Ada aturan yang melarang masyarakat untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang merusak kemuliaan bulan Ramadhan, misal melarang tempat-tempat maksiat ( hiburan malam) , menindak tegas restoran dan warung-warung makanan yang menjajakan makanan tanpa penutup sehingga membuat orang tergoda untuk tidak berpuasa, menutup tempat-tempat tongkrongan yang mengandung maksiat dan yang terpenting penguasa memfaslitasi kajian-kajian keilmuan agama pada masyarakat bukan malah mencurigai dan melarang kajian-kajian atau tempat-tempat majelis ta’lim karena ditakutkan akan menyebarkan faham-faham radikal, padahal dari tempat-tempat kajian inilah masyarakat akan terbentuk masyarakat yang bertaqwa taat kepada Allah SWT. Kalau masyarakat bertaqwa insyaallah negerinya akan aman dan damai, ini butuh peran negara dalam mewujudkannya.

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai”, yakni seperti pelindung yang mencegah musuh dari menyakiti kaum Muslim; juga mencegah sebagian orang dari (kejahatan) sebagian yang lain; memelihara kemuliaan Islam; orang-orang berlindung kepada dirinya (Khalifah) dan gentar terhadap kekuasaannya (An-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj, 6/315, Maktabah Syamilah).

Imam al-Ghazali sampai mengatakan bahwa agama dan kekuasaan bak saudara kembar (tidak boleh dipisahkan). Beliau pun menyatakan, ”Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Apa saja yang tidak punya pondasi akan hancur. Apa saja yang tidak punya penjaga maka akan hilang.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fii al-’Itiqad, hlm. 128, Maktabah Syamilah).
Wallahu a'lam
Bagikan:
KOMENTAR