Ratna Munjiah (Pemerhati Sosial Masyarakat)
Banyaknya protes orangtua siswa terkait biaya kelulusan yang ditetapkan pihak sekolah.
Kepala Disdikbud Samarinda Ancam Beri Sanksi Bila Tetap Pungut Biaya Perpisahan Sekolah (https://kaltim.tribunnews.com/2025/03/19/kepala-disdikbud-samarinda-ancam-beri-sanksi-bila-tetap-pungut-biaya-perpisahan-sekolah).
Keluhan maupun protes tentu akan terjadi, menggelikan tentu untuk mencukupi kebutuhan harian saja para orangtua terseok-seok, beras terbeli saja sudah Alhamdulillah. Belum selesai satu permasalahan keluarga bagaimana susahnya memenuhi kebutuhan hidup, permasalahan baru muncul lagi terkait biaya perpisahan sekolah yang ditetapkan tarif yang nilainya tidak masuk akal.
Jika dicermati pun ketika sudah lulus gambaran untuk bisa melanjutkan sekolah kejenjang berikutnya saja belum tau, belum lagi kepastian mendapatkan pekerjaan saja sangat jauh. Ya inilah paradigma dalam sistem kapitalis yang sandarannya adalah materi. Kapitalisme selalu disandarkan kepada materialisme termasuk yang penting kelulusan siswa, lantas bagaimana kualitas dan kepribadian pasca lulus? sampai saat ini belum menemukan solusinya
Paradigma kapitalis muncul ketika dorongannya adalah manfaat dan saat protes terjadi tak lain karena materi. Sehingga protes yang terjadi saat ini, tidak sampai pada perubahan hakiki yang sesuai Syara' masih sebatas untung dan rugi.
Pada faktanya perpisahan seringkali diwarnai dengan ceremony kemewahan dan pesta meriah sehingga tidak sedikit dari sekolah maupun orang tua bahkan siswa sendiri menginginkan kemewahan dengan biaya tidak sedikit. Bahkan menjadi ajang kemaksiatan karena ikhtilat, tabaruj dan membuka aurat. Belum lagi dalam sistem kapitalisme perayaan kelulusan sekolah menjadi tanggung jawab sekolah atau orang tua sehingga pemerintah tidak bertanggung jawab akan hal itu, dan hal ini tentu tidak akan ditemukan dalam Islam.
Dalam Islam perayaan perpisahan siswa sekolah adalah wujud penghargaan kepada siswa. Sebagai reward atas upaya mereka dalam berjuang dalam belajar. Tidak masalah dilakukan selama tetap dalam koridor hukum syara'.
Ketikapun akan dilaksanakan tidak untuk membebani orang tua tapi sudah satu paket dengan penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab negara sebagai pengurus rakyat.
Islam sebagai agama sempurna, hadir menyelesaikan segala persoalan manusia. Entah masalah orang tua, masalah negara, masalah pemuda hingga masalah kelulusan akan selalu bisa diselesaikan oleh islam. Termasuk Islam memberikan panduan bagaimana cara yang paling tepat untuk mensyukuri nikmatNya. Makna bersyukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak-Nya.
Maka cara mensyukuri nikmat Allah berupa kelulusan bisa dengan memperbanyak ucapan hamdalah dan selalu berpikir positif (husnuzhan) terhadap semua nikmat Allah swt, karena sesungguhnya nikmat atau karunia yang Allah swt berikan kepada kita pada dasarnya adalah sebuah ujian, apakah kita pandai bersyukur ataukah tidak. Selain memperbanyak kalimat pujian sebagai bentuk syukur, mensyukuri nikmat Allah bisa dilakukan dengan amal perbuatan, yakni dengan melakukan ketaatan kepada Sang Pencipta. Menjalankan semua syariat-Nya serta menjauhi apa yang telah dilarang dan diharamkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
Ketika setiap individu pandai untuk bersyukur, maka Allah swt akan menambah nikmat kepada hamba-Nya. Mau kan bila nikmat yang diberikan oleh Allah ditambah?
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7).
Perayaan yang merupakan bentuk syukur tidak harus degan biaya mahal, hakekat hakekat bersyukur sesungguhnya adalah bersyukur atas diri sendiri karena Allah adalah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji. Allah swt berfirman yang artinya : “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Luqman (31) : 12).
Maka sudah saatnya setiap individu bertindak lebih mengedepankan akal bukan lagi asal-asalan. Merayakan kelulusan lebih baik dengan mengucap syukur dan tidak melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat dan jauhi aktivitas sia-sia.
Untuk itu butuh kepemimpinan Islam sebagai solusi atas permasalahan yang ada , karena dalam Islam pemerintah akan menjalankan fungsinya sebagai periayah umat tak luput terkait pendidikan. Fasilitas terbaik akan diberikan bukan saja saat berada disekolah namun ketika kelulusan, setiap individu akan diberikan penghargaan atas upayanya selama masa pendidikan dan negara tidak akan memungut biaya kepada rakyatnya. Hanya dengan diterapkannya sistem Islam dalam daulah Khilafah maka tatanan kehidupan akan berjalan dengan sebaik-baiknya. Wallahua'lam