PERNIKAHAN DINI BUKAN SOLUSI YANG TEPAT


author photo

27 Mar 2025 - 12.36 WIB



Oleh : Sulistiyawati (Mahasiswi Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Banjarmasin)

Pernikahan dini sering dianggap sebagai solusi untuk menghindari masalah, seperti membebani orang tua atau menyelesaikan hubungan percintaan. Banyak orang, terutama di pedesaan, berpikir bahwa menikah setelah lulus SMA adalah pilihan yang baik. Namun, kenyataannya, banyak remaja yang belum siap secara emosional maupun mental untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Usia yang masih muda seringkali belum cukup matang untuk menghadapi tantangan pernikahan, apalagi untuk menjadi orang tua.
Selain itu, meskipun ada yang beranggapan bahwa pernikahan dengan uang panai yang banyak bisa menjamin kebahagiaan, kenyataannya materi bukanlah faktor utama yang menjamin keberlangsungan pernikahan. Faktor kesiapan mental, komunikasi yang baik, dan kedewasaan emosi jauh lebih penting. Tanpa hal-hal ini, pernikahan muda cenderung rentan mengalami masalah, bahkan bisa berakhir dengan perceraian. Sebaiknya, setiap individu diberikan waktu untuk berkembang dan mencapai kedewasaan sebelum memutuskan untuk membangun sebuah keluarga.
Pernikahan dini juga dapat berdampak negatif pada pendidikan dan perkembangan karier seseorang. Banyak anak muda yang terpaksa mengorbankan impian mereka untuk melanjutkan pendidikan atau mengejar cita-cita karena peran baru yang mereka jalani sebagai pasangan suami istri. Belum lagi jika pernikahan tersebut berlanjut dengan kehadiran anak, yang tentu saja membutuhkan perhatian dan biaya yang tidak sedikit. Dalam kondisi seperti ini, banyak dari mereka yang terjebak dalam rutinitas sehari-hari tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi potensi diri atau mengembangkan keterampilan yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di masa depan.
Lebih jauh lagi, pernikahan dini juga seringkali berhubungan dengan tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga. Ketidakmatangan dalam emosi dan komunikasi dapat memicu konflik yang tidak dapat diselesaikan dengan baik. Perbedaan pandangan dan ekspektasi yang tidak realistis seringkali menjadi sumber ketegangan yang merusak hubungan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan perhatian lebih pada pendidikan tentang kesiapan mental dan emosional dalam menjalani pernikahan, serta menghargai pentingnya perencanaan hidup yang matang, agar pasangan muda dapat menjalani kehidupan keluarga dengan lebih baik dan harmonis.
Bagikan:
KOMENTAR
 
Copyright @ 2014-2019 - Radar Informasi Indonesia, PT